• Home
  • Opini
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Otomotif
  • Sumatera
  • Hukrim
  • More
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Video
    • News
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
WAKO H Paisal Apresiasi Aksi Penanaman Pohon Kapolda Riau Di Mundam Kota Dumai
05 Juni 2026
SMKN 2 Dumai Tegaskan Tidak Menolak Program MBG, Penyaluran Dilanjutkan Usai Libur Sekolah
07 Januari 2026
20 Warga Kurang Mampu Rutin Terima Sembako Dari Tim GJB Pemuda Sintong
03 Januari 2026
DPRD Dumai Matangkan Regulasi Kepariwisataan, Dorong Kontribusi Pariwisata untuk PAD
29 Juli 2025
MK Tolak Gugatan, Paisal-Sugiyarto Siap Dilantik Sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Dumai
04 Februari 2025

  • Home
  • Politik

Kepentingan Politik Menjadi "berhala" Pada Akhirnya Akan Menyisakan Kejahatan Moral Berlapis-Lapis

PantauNews

Selasa, 02 Mei 2023 11:41:03 WIB
Cetak

PANTAUNEWS.CO.ID, JAKARTA - Dalam satu dekade terakhir ini narasi sosial dan politik berubah cepat. 

Para pembuat gaduh pada dasarnya adalah orang yang tadinya biasa saja, lalu merusak tatanan demokrasi karena kekecewaan politik menjadi kebencian. 

kebencian menjelma jadi permusuhan, dan rasa permusuhan kemudian menjadi jangkar antagonis bagi siapapun yang dianggap lawan. 

Hingga akhirnya mereka membuat kegaduhan psiko-sosial yang menekan banyak orang untuk merasa sulit menyalurkan empati, apalagi apresiasi. Narasi ofensif dan subyektif itu dirawat dan dibiarkan tetap hidup, untuk mengisolir kekalahan politik menjadi estafet kekuatan politik berikutnya. 

"That's why politics keep poisoning the crowd", kata Noam Chomsky. 

Seringkali saya menulis, ketika kepentingan politik menjadi "berhala" pada akhirnya akan menyisakan kejahatan moral berlapis-lapis. 

Kontestasi politik bisa saja berakhir damai pada tingkat  elit, tapi pada tataran akar rumput permusuhan tidak mudah untuk bertemu dalam satu bejana. Residu perseteruan yang dibangun sejak awal oleh 1-2 orang, akan mengkristal di kepala jutaan elektoral. 

Algoritma narasi politik bukanlah sesuatu yang sederhana. Bisa kita lihat ketika pak Prabowo dan Sandi Uno telah menjadi sekondan pak Jokowi, pendukung di tingkat bawah belum tentu seketika ikut berpelukan. Ini semua akibat kesalahan narasi politik berbasis disparitas yang dibangun terlalu lama. 

Berbagai narasi antitesis yang dulu dengan gencar diciptakan, justeru membangun sekat-sekat keberpihakan akut, yang pada akhirnya hanya melahirkan sosok berhala baru dengan penggambaran yang hampir tidak masuk akal. Inilah sosok racun dalam dunia demokrasi. Dalam bahasa Terrance Wiley disebut "angelic troublemakers", malaikat pembuat onar yang memanfaatkan permusuhan politik. 

Pemujaan berlebih terhadap satu sosok dalam demokrasi, secara tanpa sadar memungkinkan akan membentuk fanatisme yang bisa saja melampaui dogma. Dunia politik sangat menyukai situasi ini, karena "political trance" yang berlebihan kerap kali mematikan nilai moral dan memaklumi semua bentuk kelicikan 

Tapi inilah fakta demokrasi. Ketika negara Barat mengatakan bahwa demokrasi hanya mengenal universalisme dan nilai-nilai moral obyektif, maka dari sanalah semua omong kosong dimulai. 

Di balik beberapa kebaikan demokrasi, prinsip "kebebasan" bisa saja bermakna "pembelengguan" terhadap pihak lain. Ia bisa saja meringkus dan melabel orang lain; "If you are not with us, then you are against us!" 

Demokrasi juga  bisa melahirkan manusia hebat dalam artian artifisial, yang dalam istilah Nietszche sebagai "letzter mensch", manusia terakhir yang ditampilkan heroik padahal nihilistik. Manusia biasa yang disulap paksa menjadi paripurna.


Demokrasi ternyata memang tidak bisa menjadi wasit bagi dirinya sendiri. Dalam pandangan Theodor Adorno, atas nama kebebasan, demokrasi hanya melahirkan subjek politik yang terpenjara dalam kepatuhan yang pasif. 

Demokrasi mencetak orang-orang konyol yang setiap hari berteriak "hidup telah dikekang", tapi tak pernah ada satupun orang yang menyumpal mulutnya. 

Secara lambat laun, kebaikan demokrasi juga melahirkan orang yang mengharamkan demokrasi tapi menikmati kebebasan demokrasi untuk meneriakkan "anti demokrasi." 

Namun untuk ukuran hari ini, demokrasi masih menjadi jalan satu-satunya untuk terciptanya ruang lebar "civil society". Tidak harus ningrat, tidak harus mantan tentara, tidak harus orang kaya, setidaknya demokrasi masih menjadi andalan bagi rakyat jelata untuk memiliki peluang jadi pemimpin negara. 

Oleh: Islah Bahrawi
 


 Editor : Dedi Saputra

[Ikuti PantauNews.co.id Melalui Sosial Media]


PantauNews.co.id

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Geser Posisi Eddy Tanjung, Muhammad Rahul Membenarkan Dirinya Ketuai Partai Gerindra Riau

PDI Perjuangan Umumkan Usung Wahyu Adi - Supriati di Pilkada Inhu

Masyarakat Riau Apresiasi Kepemimpinan SF Hariyanto, Sosok Pemimpin Merakyat dan Visioner

Semangat Tanpa Batas, Tim Pemenangan H. Paisal-Sugiyarto Siap Hadapi Hari Pemilihan

Kegembiraan Masyarakat Pecah di Posko Sugiyarto, Sambut Kemenangan PAS

Tengku Nazlah Dikabarkan 'Senter' Posisi Ketua DPW pada Muswil PPP Riau

Dr. Syahrial Abdi Resmi Dilantik Jadi Sekdaprov Riau: Birokrat Visioner dengan Rekam Jejak Mentereng

Mengenal Sosok dr. Ferianto SpAn.Ti Dan Desakan Masyarakat Untuk Maju Memimpin Dumai.

Wali Kota Dumai H. Paisal Buka Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2024

Paslon Husni-Edy Sabli Dapat Tambahan Dukungan dari Partai Nasdem

Adakan Virtual Talk, Kammi Riau Sorot Persiapan Pemilu Serentak 2024

Beredar 'Rekom' Golkar 5 Balon Kepala Daerah di Riau, Syarifah Dampingi Eko Suharjo di Pilkada Dumai

Terkini +INDEKS

Sinergi Polisi dan Petani Perkuat Ketahanan Pangan, Pekarangan Bergizi di Bumi Ayu Tunjukkan Hasil Positif

12 Juni 2026
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Bhabinkamtibmas Bukit Timah Pantau Peternakan Sapi Kelompok Tani Mekar Sejati
11 Juni 2026
Bhabinkamtibmas Dumai Barat Pantau Kebun Ubi Warga, Perkuat Ketahanan Pangan dari Pekarangan
10 Juni 2026
Ketua Kelompok Tani Kenduduk Putih Bersama Puluhan Anggota Desak Segera Bentuk Tim Penyelesaian Lahan Balai Kayang
09 Juni 2026
Ketahanan Pangan Dimulai dari Kebun, Bhabinkamtibmas Cek Langsung Perkebunan Alpukat Warga
09 Juni 2026
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 427 Koli Pakaian Bekas dari Malaysia, Lima Kru KM Bintang Mas 88 Jadi Tersangka
08 Juni 2026
DPRD Dumai Turun Langsung ke Batam, Jemput Kepulangan Jamaah Haji dari Tanah Suci
07 Juni 2026
PeHR dan Polres Dumai Bersatu, Mangrove Ditanam untuk Lawan Abrasi dan Perubahan Iklim
06 Juni 2026
Diikuti Puluhan Mahasiswa dari Berbagai Prodi, STAI Ar-Ridho Gelar Sempro dan Sidang Skripsi
06 Juni 2026
Kapolda Riau, Wako Dumai dan DPRD Turun Langsung Tanam Mangrove, Perkuat Pesisir Hadapi Perubahan Iklim
05 Juni 2026

Terpopuler +INDEKS

Kecelakaan Maut di Jalan Sultan Hasanuddin Dumai! Pengemudi Fortuner Diduga Mabuk, Dua Nyawa Melayang

Dibaca : 225 Kali
Komitmen Tegas: Polisi dan LBH GP Ansor Bersatu Kawal Keadilan di Pelalawan
Dibaca : 273 Kali
Desakan Bongkar Laka Kerja PT Ivo Mas Tunggal, Dugaan Kelalaian Berat hingga Dugaan Unsur Kesengajaan Mencuat
Dibaca : 1886 Kali
Guru Bantu di Riau Belum Terima Gaji, Aktivis Pendidikan Riau Minta Presiden Prabowo Subianto Dan KPK Segera Turun Tangan
Dibaca : 1356 Kali
Aktivis Pendidikan Riau Desak Komisi Pemberantasan Korupsi Pantau Pengumuman Kelulusan SMA Negeri Plus
Dibaca : 501 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
PantauNews.co.id ©2020 | All Right Reserved