Kepentingan Politik Menjadi "berhala" Pada Akhirnya Akan Menyisakan Kejahatan Moral Berlapis-Lapis
PANTAUNEWS.CO.ID, JAKARTA - Dalam satu dekade terakhir ini narasi sosial dan politik berubah cepat.
Para pembuat gaduh pada dasarnya adalah orang yang tadinya biasa saja, lalu merusak tatanan demokrasi karena kekecewaan politik menjadi kebencian. 
kebencian menjelma jadi permusuhan, dan rasa permusuhan kemudian menjadi jangkar antagonis bagi siapapun yang dianggap lawan.
Hingga akhirnya mereka membuat kegaduhan psiko-sosial yang menekan banyak orang untuk merasa sulit menyalurkan empati, apalagi apresiasi. Narasi ofensif dan subyektif itu dirawat dan dibiarkan tetap hidup, untuk mengisolir kekalahan politik menjadi estafet kekuatan politik berikutnya.
"That's why politics keep poisoning the crowd", kata Noam Chomsky.
Seringkali saya menulis, ketika kepentingan politik menjadi "berhala" pada akhirnya akan menyisakan kejahatan moral berlapis-lapis.
Kontestasi politik bisa saja berakhir damai pada tingkat elit, tapi pada tataran akar rumput permusuhan tidak mudah untuk bertemu dalam satu bejana. Residu perseteruan yang dibangun sejak awal oleh 1-2 orang, akan mengkristal di kepala jutaan elektoral.
Algoritma narasi politik bukanlah sesuatu yang sederhana. Bisa kita lihat ketika pak Prabowo dan Sandi Uno telah menjadi sekondan pak Jokowi, pendukung di tingkat bawah belum tentu seketika ikut berpelukan. Ini semua akibat kesalahan narasi politik berbasis disparitas yang dibangun terlalu lama.
Berbagai narasi antitesis yang dulu dengan gencar diciptakan, justeru membangun sekat-sekat keberpihakan akut, yang pada akhirnya hanya melahirkan sosok berhala baru dengan penggambaran yang hampir tidak masuk akal. Inilah sosok racun dalam dunia demokrasi. Dalam bahasa Terrance Wiley disebut "angelic troublemakers", malaikat pembuat onar yang memanfaatkan permusuhan politik.
Pemujaan berlebih terhadap satu sosok dalam demokrasi, secara tanpa sadar memungkinkan akan membentuk fanatisme yang bisa saja melampaui dogma. Dunia politik sangat menyukai situasi ini, karena "political trance" yang berlebihan kerap kali mematikan nilai moral dan memaklumi semua bentuk kelicikan
Tapi inilah fakta demokrasi. Ketika negara Barat mengatakan bahwa demokrasi hanya mengenal universalisme dan nilai-nilai moral obyektif, maka dari sanalah semua omong kosong dimulai.
Di balik beberapa kebaikan demokrasi, prinsip "kebebasan" bisa saja bermakna "pembelengguan" terhadap pihak lain. Ia bisa saja meringkus dan melabel orang lain; "If you are not with us, then you are against us!"
Demokrasi juga bisa melahirkan manusia hebat dalam artian artifisial, yang dalam istilah Nietszche sebagai "letzter mensch", manusia terakhir yang ditampilkan heroik padahal nihilistik. Manusia biasa yang disulap paksa menjadi paripurna.
Demokrasi ternyata memang tidak bisa menjadi wasit bagi dirinya sendiri. Dalam pandangan Theodor Adorno, atas nama kebebasan, demokrasi hanya melahirkan subjek politik yang terpenjara dalam kepatuhan yang pasif.
Demokrasi mencetak orang-orang konyol yang setiap hari berteriak "hidup telah dikekang", tapi tak pernah ada satupun orang yang menyumpal mulutnya.
Secara lambat laun, kebaikan demokrasi juga melahirkan orang yang mengharamkan demokrasi tapi menikmati kebebasan demokrasi untuk meneriakkan "anti demokrasi."
Namun untuk ukuran hari ini, demokrasi masih menjadi jalan satu-satunya untuk terciptanya ruang lebar "civil society". Tidak harus ningrat, tidak harus mantan tentara, tidak harus orang kaya, setidaknya demokrasi masih menjadi andalan bagi rakyat jelata untuk memiliki peluang jadi pemimpin negara.
Oleh: Islah Bahrawi


Berita Lainnya
Geser Posisi Eddy Tanjung, Muhammad Rahul Membenarkan Dirinya Ketuai Partai Gerindra Riau
PDI Perjuangan Umumkan Usung Wahyu Adi - Supriati di Pilkada Inhu
Masyarakat Riau Apresiasi Kepemimpinan SF Hariyanto, Sosok Pemimpin Merakyat dan Visioner
Semangat Tanpa Batas, Tim Pemenangan H. Paisal-Sugiyarto Siap Hadapi Hari Pemilihan
Kegembiraan Masyarakat Pecah di Posko Sugiyarto, Sambut Kemenangan PAS
Tengku Nazlah Dikabarkan 'Senter' Posisi Ketua DPW pada Muswil PPP Riau
Dr. Syahrial Abdi Resmi Dilantik Jadi Sekdaprov Riau: Birokrat Visioner dengan Rekam Jejak Mentereng
Mengenal Sosok dr. Ferianto SpAn.Ti Dan Desakan Masyarakat Untuk Maju Memimpin Dumai.
Wali Kota Dumai H. Paisal Buka Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2024
Paslon Husni-Edy Sabli Dapat Tambahan Dukungan dari Partai Nasdem
Adakan Virtual Talk, Kammi Riau Sorot Persiapan Pemilu Serentak 2024
Beredar 'Rekom' Golkar 5 Balon Kepala Daerah di Riau, Syarifah Dampingi Eko Suharjo di Pilkada Dumai