• Home
  • Opini
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Otomotif
  • Sumatera
  • Hukrim
  • More
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Video
    • News
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
WAKO H Paisal Apresiasi Aksi Penanaman Pohon Kapolda Riau Di Mundam Kota Dumai
05 Juni 2026
SMKN 2 Dumai Tegaskan Tidak Menolak Program MBG, Penyaluran Dilanjutkan Usai Libur Sekolah
07 Januari 2026
20 Warga Kurang Mampu Rutin Terima Sembako Dari Tim GJB Pemuda Sintong
03 Januari 2026
DPRD Dumai Matangkan Regulasi Kepariwisataan, Dorong Kontribusi Pariwisata untuk PAD
29 Juli 2025
MK Tolak Gugatan, Paisal-Sugiyarto Siap Dilantik Sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Dumai
04 Februari 2025

  • Home
  • Ekonomi

Budidaya Belatung, Pemuda di Sukabumi Perangi Sampah di Lingkungannya

PantauNews

Ahad, 31 Oktober 2021 12:03:30 WIB
Cetak

SUKABUMI, PANTAUNEWS.CO.ID - Dasepul Alam menenteng beberapa kantong sampah hasil limbah rumah tangga yang ia peroleh hari ini, ia menyeka keringat yang menetes di dahinya. Beberapa kantung sampah langsung ia masukan ke dalam Biopon atau semacam bak berukuran kecil tempat belatung atau magot.

Pria yang akrab disapa Dasep itu mulai belajar beternak magot selama dua tahun terakhir, ia mengikuti beberapa komunitas peternak magot untuk menggali pengalaman dan pengetahuan. Di mata Dasep, Magot ibarat mesin pengurai sampah hidup yang ramah lingkungan.

"Satu sampai dua kuintal sampah sehari diurai oleh magot, saya mencari sampah mulai dari tetangga lingkungan sendiri, beberapa pasar tradisional dan dari TPA Ciangsana. Ya karena magot saya masih belum banyak jadi kebutuhannya masih dua kuintal sehari," kata Dasep saat ditemui detikcom di Kampung Bantargebang RT 002 RW 001 Desa Bantargebang, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (30/10/21).

TERKAIT
  • Jubir Luhut: 500 TKA China Dibutuhkan untuk Mempercepat Pembangunan Smelter
  • Masyarakat bisa memperpanjang SIM hingga akhir Agustus 2020.
  • Peringatan Keras Presiden pada Kementerian yang Kinerjanya Tak Menujukkan Adanya Perasaan Krisis Dalam Penanganan Covid-19

Berawal dari beternak Magot memancing Dasep untuk beternak ayam, kini ada 50 ekor ayam yang ia pelihara. Selain untuk kebutuhan sendiri, tidak sedikit magot yang kemudian ia jual untuk pasar lokal.

"Merupakan sesuatu yang unik, banyak orang yang jijik megangnya juga, tapi ternyata magot ini sangat bermanfaat untuk pakan unggas dan ikan. Magot ini tinggi nilai proteinnya 40 sampai 56 persen melebihi pakan pabrikan, untuk ternak juga akan sehat karena ini alami," jelasnya.

"Semuanya mentok ke pembiayaan, saya membayangkan saat ini saja saya bisa mengurai dua kuintal sampah. Kalau misalkan saya perbanyak lagi, bisa sampai ton-tonan sampah yang saya urai. Minimal dari kampung saya saja sendiri karena magot ini ibarat mesin pengurai sampah hidup yang ramah lingkungan. Bisa dibayangkan kalau semua memelihara magot, sampah tentu tidak akan menumpuk di TPA," sambung dia.

Dasep menjelaskan, teknis budidaya Magot dimulai dari larva berumur 15 sampai 30 hari sudah menjadi Prepuva kemudian selang seminggu menjadi puva. "Setelah itu akan menjadi lalat, setelah kawin antara lalat jantan dan betina dua sampai lima hari akan mati lalu menjadi larva baru lagi," jelasnya.

Bermanfaatnya magot tidak sekedar saat mengurai sampah, sisa makan magot hingga kotorannya pun dikatakan Dasep masih bermanfaat bagi berbagai macam tanaman pertanian sebagai pupuk.

"Manfaat bagi lingkungan, intinya membantu membersihkan sampah bisa juga menciptakan lapangan kerja. Harapan ke depan pemerintah bisa memperhatikan para peternak magot karena bisa dibilang kami ini pejuang sampah karena berkecimpung langsung dalam penanganan masalah sampah, diakui atau tidak sampah permasalahan besar bagi semua orang," ujarnya.

Tidak sekedar untuk pakan ayamnya sendiri, sisa magot yang dipelihara Dasep juga banyak disebar di sejumlah wilayah di Sukabumi. Ia bahkan mengaku pernah menerima pesanan magot dari luar negeri namun terpaksa ditolak karena kuota yang dibutuhkan sangat besar.

"Timor Leste minta PO untuk pengadaan fresh magot, sampai minyak magotnya, untuk magot fresh minta 150 ton per bulan, tepung magot mereka minta 2 ton. Ini tentu tidak tercover kendala kepada masalah finansial, walau magot ini dikatakan makananya limbah dan limbah gratis namun penanganan perlu biaya. Apalagi untuk produksi skala besar perlu biaya yang tidak sedikit. Seminggu saya baru bisa menghasilkan dua kuintal, kalau dioptimalkan sehari bisa satu kuintal namun kembali ke masalah finansial," pungkas dia. (*)

 


Sumber : Detik.com /  Editor : Edriwan

[Ikuti PantauNews.co.id Melalui Sosial Media]


PantauNews.co.id

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Kadin Akan Undang Perusahaan Pengembang Dumai Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi

Kades Nolokerto di Kendal Inisiatif Latih Warganya Keterampilan Menganyam

Pemuda Pemudi Lokal Sulit Tembus Dunia Industri Kota Dumai, LPPD dan SPN Dumai Siap Gelar Aksi

Anggota DPRD Rohil Muhammad Syah Padri Hadiri Malam Takbir keliling idul Adha 1447H Tahun 2026

Bank OCBC NISP Luncurkan Solusi Financial Fitness

Bonsai Kelapa, Tanaman Hias yang Ramai Diminati Masyarakat

Jangan Lupa Klaim Token Listrik Gratis Bulan Agustus di www.pln.co.id

Shopee Luncurkan Program Dukungan Pemulihan Ekonomi Nasional

Direktur Operasi Kilang PT Pertamina Patra Niaga Pimpin Apel Grand Safety Talk Turn Around Mayor 2026 Kilang Dumai

Kenapa Bank 'Sulit' Turunkan Bunga KPR?

Kemenkumham dan Kemenkeu Selenggarakan Temu Bisnis Tahap VI Tahun 2023

Goro Massal Kamis Bersih, DLH Rohil Bersihkan Median jalan Mulai Tugu Elang Hingga Ke Pelabuhan Baru Bagansiapiapi

Terkini +INDEKS

Sinergi Polisi dan Petani Perkuat Ketahanan Pangan, Pekarangan Bergizi di Bumi Ayu Tunjukkan Hasil Positif

12 Juni 2026
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Bhabinkamtibmas Bukit Timah Pantau Peternakan Sapi Kelompok Tani Mekar Sejati
11 Juni 2026
Bhabinkamtibmas Dumai Barat Pantau Kebun Ubi Warga, Perkuat Ketahanan Pangan dari Pekarangan
10 Juni 2026
Ketua Kelompok Tani Kenduduk Putih Bersama Puluhan Anggota Desak Segera Bentuk Tim Penyelesaian Lahan Balai Kayang
09 Juni 2026
Ketahanan Pangan Dimulai dari Kebun, Bhabinkamtibmas Cek Langsung Perkebunan Alpukat Warga
09 Juni 2026
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 427 Koli Pakaian Bekas dari Malaysia, Lima Kru KM Bintang Mas 88 Jadi Tersangka
08 Juni 2026
DPRD Dumai Turun Langsung ke Batam, Jemput Kepulangan Jamaah Haji dari Tanah Suci
07 Juni 2026
PeHR dan Polres Dumai Bersatu, Mangrove Ditanam untuk Lawan Abrasi dan Perubahan Iklim
06 Juni 2026
Diikuti Puluhan Mahasiswa dari Berbagai Prodi, STAI Ar-Ridho Gelar Sempro dan Sidang Skripsi
06 Juni 2026
Kapolda Riau, Wako Dumai dan DPRD Turun Langsung Tanam Mangrove, Perkuat Pesisir Hadapi Perubahan Iklim
05 Juni 2026

Terpopuler +INDEKS

Kecelakaan Maut di Jalan Sultan Hasanuddin Dumai! Pengemudi Fortuner Diduga Mabuk, Dua Nyawa Melayang

Dibaca : 226 Kali
Komitmen Tegas: Polisi dan LBH GP Ansor Bersatu Kawal Keadilan di Pelalawan
Dibaca : 273 Kali
Desakan Bongkar Laka Kerja PT Ivo Mas Tunggal, Dugaan Kelalaian Berat hingga Dugaan Unsur Kesengajaan Mencuat
Dibaca : 1887 Kali
Guru Bantu di Riau Belum Terima Gaji, Aktivis Pendidikan Riau Minta Presiden Prabowo Subianto Dan KPK Segera Turun Tangan
Dibaca : 1356 Kali
Aktivis Pendidikan Riau Desak Komisi Pemberantasan Korupsi Pantau Pengumuman Kelulusan SMA Negeri Plus
Dibaca : 501 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
PantauNews.co.id ©2020 | All Right Reserved