• Home
  • Opini
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Otomotif
  • Sumatera
  • Hukrim
  • More
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Video
    • News
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
SMKN 2 Dumai Tegaskan Tidak Menolak Program MBG, Penyaluran Dilanjutkan Usai Libur Sekolah
07 Januari 2026
20 Warga Kurang Mampu Rutin Terima Sembako Dari Tim GJB Pemuda Sintong
03 Januari 2026
DPRD Dumai Matangkan Regulasi Kepariwisataan, Dorong Kontribusi Pariwisata untuk PAD
29 Juli 2025
MK Tolak Gugatan, Paisal-Sugiyarto Siap Dilantik Sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Dumai
04 Februari 2025
Polres Dumai Tutup Tahun 2024 dengan Deretan Prestasi dan Komitmen untuk Keamanan Kota
31 Desember 2024

  • Home
  • Ekonomi

Budidaya Belatung, Pemuda di Sukabumi Perangi Sampah di Lingkungannya

PantauNews

Ahad, 31 Oktober 2021 12:03:30 WIB
Cetak

SUKABUMI, PANTAUNEWS.CO.ID - Dasepul Alam menenteng beberapa kantong sampah hasil limbah rumah tangga yang ia peroleh hari ini, ia menyeka keringat yang menetes di dahinya. Beberapa kantung sampah langsung ia masukan ke dalam Biopon atau semacam bak berukuran kecil tempat belatung atau magot.

Pria yang akrab disapa Dasep itu mulai belajar beternak magot selama dua tahun terakhir, ia mengikuti beberapa komunitas peternak magot untuk menggali pengalaman dan pengetahuan. Di mata Dasep, Magot ibarat mesin pengurai sampah hidup yang ramah lingkungan.

"Satu sampai dua kuintal sampah sehari diurai oleh magot, saya mencari sampah mulai dari tetangga lingkungan sendiri, beberapa pasar tradisional dan dari TPA Ciangsana. Ya karena magot saya masih belum banyak jadi kebutuhannya masih dua kuintal sehari," kata Dasep saat ditemui detikcom di Kampung Bantargebang RT 002 RW 001 Desa Bantargebang, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (30/10/21).

TERKAIT
  • Jubir Luhut: 500 TKA China Dibutuhkan untuk Mempercepat Pembangunan Smelter
  • Masyarakat bisa memperpanjang SIM hingga akhir Agustus 2020.
  • Peringatan Keras Presiden pada Kementerian yang Kinerjanya Tak Menujukkan Adanya Perasaan Krisis Dalam Penanganan Covid-19

Berawal dari beternak Magot memancing Dasep untuk beternak ayam, kini ada 50 ekor ayam yang ia pelihara. Selain untuk kebutuhan sendiri, tidak sedikit magot yang kemudian ia jual untuk pasar lokal.

"Merupakan sesuatu yang unik, banyak orang yang jijik megangnya juga, tapi ternyata magot ini sangat bermanfaat untuk pakan unggas dan ikan. Magot ini tinggi nilai proteinnya 40 sampai 56 persen melebihi pakan pabrikan, untuk ternak juga akan sehat karena ini alami," jelasnya.

"Semuanya mentok ke pembiayaan, saya membayangkan saat ini saja saya bisa mengurai dua kuintal sampah. Kalau misalkan saya perbanyak lagi, bisa sampai ton-tonan sampah yang saya urai. Minimal dari kampung saya saja sendiri karena magot ini ibarat mesin pengurai sampah hidup yang ramah lingkungan. Bisa dibayangkan kalau semua memelihara magot, sampah tentu tidak akan menumpuk di TPA," sambung dia.

Dasep menjelaskan, teknis budidaya Magot dimulai dari larva berumur 15 sampai 30 hari sudah menjadi Prepuva kemudian selang seminggu menjadi puva. "Setelah itu akan menjadi lalat, setelah kawin antara lalat jantan dan betina dua sampai lima hari akan mati lalu menjadi larva baru lagi," jelasnya.

Bermanfaatnya magot tidak sekedar saat mengurai sampah, sisa makan magot hingga kotorannya pun dikatakan Dasep masih bermanfaat bagi berbagai macam tanaman pertanian sebagai pupuk.

"Manfaat bagi lingkungan, intinya membantu membersihkan sampah bisa juga menciptakan lapangan kerja. Harapan ke depan pemerintah bisa memperhatikan para peternak magot karena bisa dibilang kami ini pejuang sampah karena berkecimpung langsung dalam penanganan masalah sampah, diakui atau tidak sampah permasalahan besar bagi semua orang," ujarnya.

Tidak sekedar untuk pakan ayamnya sendiri, sisa magot yang dipelihara Dasep juga banyak disebar di sejumlah wilayah di Sukabumi. Ia bahkan mengaku pernah menerima pesanan magot dari luar negeri namun terpaksa ditolak karena kuota yang dibutuhkan sangat besar.

"Timor Leste minta PO untuk pengadaan fresh magot, sampai minyak magotnya, untuk magot fresh minta 150 ton per bulan, tepung magot mereka minta 2 ton. Ini tentu tidak tercover kendala kepada masalah finansial, walau magot ini dikatakan makananya limbah dan limbah gratis namun penanganan perlu biaya. Apalagi untuk produksi skala besar perlu biaya yang tidak sedikit. Seminggu saya baru bisa menghasilkan dua kuintal, kalau dioptimalkan sehari bisa satu kuintal namun kembali ke masalah finansial," pungkas dia. (*)

 


Sumber : Detik.com /  Editor : Edriwan

[Ikuti PantauNews.co.id Melalui Sosial Media]


PantauNews.co.id

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Grand Opening Kajay Cafe & Resto, Lengkapi Citarasa Pencinta Kuliner di Kota Dumai

Shopee Hadirkan Kolaborasi Spesial

Jelajah Kuliner Nusantara Bersama Shopee 9.9 Super Shopping Day!

Pemerintah Beri Dana Talangan,Wakil Rakyat Meminta Supaya Tepat Sasaran Jelas dan Terukur

Apical Tegaskan Komitmen Pendampingan untuk Kembangkan Budidaya Ternak di Dumai

Peringati Hari Kesehatan Nasional, Puskesmas Tanah Putih I Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Sunat Massal

Pedagang Pasar Dumai Keluhkan Sepinya Pembeli Jelang Lebaran

Didampingi Rudi Junaidi, Badaruzzaman Susun Kepengurusan ALFI/ILFA Dumai

Senator Aceh: Kebijakan Pemerintah Terkait Minyak Goreng Harus Dikaji Ulang

Terkait Ekonomi RI Minus 5,3%, Ini Kata Sri Mulyani

Kadis PUTR Rohil Bersama Camat Bangko Dan Ketua ROLI Tinjau Rumah Tidak Layak Huni di Jalan Satria Tangko

Di Ikuti Ratusan Mahasiswa Ketua Prodi Manajemen Dakwah STAI Ar Ridho Jadi Khatib Jumat di Masjid Kampus

Terkini +INDEKS

21 Mahasiswa STAI Ar Ridho Bagansiapiapi Ikuti Sidang Seminar Proposal

12 Maret 2026
Dirut Agrinas Absen Rapat DPR, Polemik Program Koperasi Desa Merah Putih Menguat
12 Maret 2026
Sah..Usai Terima SK DPC Pekanbaru S Hondro Siap Berbenah
12 Maret 2026
Warga Israel Berebut Keluar Negeri, Bandara Ben Gurion Kacau Usai Rudal Iran Hujani Tel Aviv
11 Maret 2026
Guru Karawang Gugat Negara ke MK, Anggaran Pendidikan Diduga Tergerus Program Makan Bergizi Gratis
11 Maret 2026
252 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Dihentikan Sementara, BGN Temukan Pelanggaran
10 Maret 2026
Safari Ramadan di Dumai, PT Krakatau Bandar Samudra Santuni Yatim dan Pererat Kolaborasi Stakeholder Pelabuhan
06 Maret 2026
Bea Cukai Dumai Tegaskan Kooperatif dan Transparan, Serahkan Dokumen Lengkap kepada Kejagung dalam Penyidikan Kasus CPO
05 Maret 2026
Kabareskrim Apresiasi Kinerja Polda Riau dalam Penanganan Karhutla, Minta Tindak Tegas Pelaku Pembakaran
05 Maret 2026
Kecelakaan Kerja di PT Ivo Mas Tunggal Dumai, FAP Tekal Soroti Pengawasan Keselamatan
05 Maret 2026

Terpopuler +INDEKS

Kecelakaan Kerja di PT Ivo Mas Tunggal Dumai, FAP Tekal Soroti Pengawasan Keselamatan

Dibaca : 255 Kali
Kasus Laka Maut Bukit Datuk Dumai, Anak Korban Resmi Gandeng Pengacara, Proses Hukum Dikawal Ketat
Dibaca : 303 Kali
Aktivis dan Pengamat pendidikan Riau, Minta PLT Gubernur Riau Segera Copot Jabatan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau
Dibaca : 1508 Kali
kepala Dinas Pendidikan Kota Dumai: Insan Pers Terus Menjadi Mitra Dalam Menyebarluaskan Informasi
Dibaca : 223 Kali
Dua Bersaudara Harumkan Dumai di Kejuaraan Karate Piala Dandim 0320, Deretan Prestasi Nasional Ikut Mengiringi
Dibaca : 313 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
PantauNews.co.id ©2020 | All Right Reserved