• Home
  • Opini
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Otomotif
  • Sumatera
  • Hukrim
  • More
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Video
    • News
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
WAKO H Paisal Apresiasi Aksi Penanaman Pohon Kapolda Riau Di Mundam Kota Dumai
05 Juni 2026
SMKN 2 Dumai Tegaskan Tidak Menolak Program MBG, Penyaluran Dilanjutkan Usai Libur Sekolah
07 Januari 2026
20 Warga Kurang Mampu Rutin Terima Sembako Dari Tim GJB Pemuda Sintong
03 Januari 2026
DPRD Dumai Matangkan Regulasi Kepariwisataan, Dorong Kontribusi Pariwisata untuk PAD
29 Juli 2025
MK Tolak Gugatan, Paisal-Sugiyarto Siap Dilantik Sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Dumai
04 Februari 2025

  • Home
  • Ekonomi

Pantas Ekonomi RI Mentok di 5,02%, Inikah Penyebebnya ?

Redaksi

Selasa, 05 November 2019 21:23:00 WIB
Cetak

Jakarta (PantauNews.co.id) - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2019 tercatat 5,02% year-on-year (YoY), laju terlemah sejak kuartal II-2017. Faktor eksternal yang kurang kondusif plus domestik yang kurang mendukung membuat pertumbuhan ekonomi domestik sulit untuk dipacu lebih cepat.

Dari sisi eksternal, indikator yang paling terlihat tentu ekspor. Pada kuartal III-2019, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0,02%. Jauh melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang naik 8,08%.

Apa yang terjadi terhadap ekspor Indonesia juga dialami oleh negara lain. Organisasi Perdagangan Dunia memperkirakan pertumbuhan ekspor global tahun ini hanya 1,2%. Melambat dibandingkan proyeksi yang dibuat pada April yaitu 2,6%.

Situasi gloomy ini diperkirakan masih berlanjut pada 2020. WTO memprediksi pertumbuhan perdagangan dunia tahun depan adalah 2,7%, melambat dibandingkan perkiraan April yaitu 3%.

"Perlambatan perdagangan dunia memang mencemaskan, tetapi tidak mengejutkan. Friksi dagang membuat ketidakpastian semakin nyata yang membuat dunia usaha mengurangi produktivitas. Penciptaan lapangan kerja juga terancam karena dunia usaha tidak membutuhkan tambahan untuk memproduksi barang di level yang sekarang," papar Roberto Azevedo, Direktur Jenderal WTO, dalam keterangan tertulis.

Risiko utama yang membayangi perekonomian dunia saat ini adalah perang dagang, utamanya yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan China. Perang dagang dua kekuatan ekonomi terbesar di planet bumi ini sudah terjadi lebih dari setahun terakhir.

Saat AS kesulitan mengekspor ke China dan sebaliknya, maka industriawan di kedua negara merespons dengan mengurangi produksi. Pada September, output manufaktur AS turun 0,5% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan output manufaktur di China masih tumbuh 4,2% YoY, tetapi merupakan laju terlemah setidaknya sejak 2006.

Kala pengusaha di AS dan China mengurangi produksi, permintaan bahan baku dan barang modal dari negara-negara lain ikut turun. Padahal AS dan China adalah negara tujuan ekspor utama bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Inilah sebabnya ekspor Indonesia mengalami kontraksi selama 11 bulan beruntun.

Faktor eksternal juga mempengaruhi salah satu komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) adalah Penanaman Modal Tetap Bruto alias investasi. Pada kuartal III-2019, investasi hanya tumbuh 4,21%, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 5,01% dan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,96%.

Laporan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) edisi Oktober 2019 menyebutkan, arus investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) secara global turun 20% pada paruh pertama 2019. Lagi-lagi perang dagang menjadi penyebabnya.

"Kondisi ini disebabkan oleh ketidakpastian di bidang perdagangan. Selain itu, insentif pajak di AS membuat perusahaan di sana memilih untuk menunda investasi di luar negeri," sebut laporan OECD.

Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah Melambat

Di luar faktor eksternal itu, situasi dalam negeri juga kurang mendukung ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi. Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang 56,52% dari pembentukan PDB Indonesia, hanya tumbuh 5,01% pada kuartal III-2019. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,17% dan menjadi laju terlemah sejak kuartal I-2018.

Masalahnya, keyakinan konsumen di Indonesia semakin melemah. Bank Indonesia (BI) melaporkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober berada di 118,4. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 121,8.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik awal. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis menghadapi kondisi perekonomian saat ini dan masa mendatang.

Namun IKK Indonesia menunjukkan penurunan yang konsisten dalam lima bulan terakhir. Bahkan angka Oktober merupakan yang terendah sejak Februari 2017.

Artinya, konsumen memang masih pede menghadapi situasi ekonomi saat ini dan masa mendatang. Namun optimisme itu memudar, terlihat dari rata-rata porsi pendapatan rumah tangga untuk konsumsi turun dari 68,8% pada September menjadi 68% pada Oktober. Porsi tabungan terhadap pendapatan naik dari 19,4% menjadi 19,8%.

Satu lagi adalah konsumsi pemerintah. Kondisinya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, belanja negara masih menumpuk pada akhir tahun.

Pada kuartal III-2019, konsumsi pemerintah hanya tumbuh 0,98%. Jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 8,25% dan periode tahun sebelumnya yaitu 6,27%.

Mengutip dokumen APBN Kita, belanja negara per akhir Agustus 2019 adalah Rp 1.383,33 triliun atau 56,4% dari pagu. Ini sebenarnya kurang sehat, karena belanja pemerintah hanya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi jelang akhir tahun.

Baca:Menkeu Belum Juga Rilis Realisasi APBN September, Kenapa?

Situasi global memang berat, gara-gara perang dagang ekspor dan investasi Indonesia terus menurun. Namun kurang bijak kalau kita menyalahkah kondisi global saja.

Faktor domestik, yang sebenarnya bisa dikendalikan oleh pemerintah dan otoritas lainnya, juga melambat. Andai konsumsi rumah tangga dan pemerintah bisa lebih baik, amat sangat mungkin sekali pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak 'cuma' 5,02%.

Sumber: CNBC Indonesia


[Ikuti PantauNews.co.id Melalui Sosial Media]


PantauNews.co.id

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Ekspansi Signifikan Apical Group Melalui Investasi Senilai 1 miliar USD di Kota Dumai

Budidaya Belatung, Pemuda di Sukabumi Perangi Sampah di Lingkungannya

Sekitar 200 Produk UKM Riau Dipromosikan Via Jual.Buy.com

Tingkatkan Pengalaman Bersantap Bersama Kedaung Home

Perayaan Imlek di Klenteng Hock Liong Kiong Kota Dumai, Syamsuar: Kerukunan Beragama Faktor Perkembangan Ekonomi

Perayaan Istimewa Puncak Kampanye Shopee 10.10 Brands Festival

PermataBank dan Astra Life Luncurkan AVA iFamily Protection di PermataMobile X

Tetap Up-To-Date dengan Tren Gaya Hidup 2021 Bersama Shopee 10.10 Brands Festival

Kemenkumham dan Kemenkeu Selenggarakan Temu Bisnis Tahap VI Tahun 2023

Tol Dumai - Pekanbaru Segera Diresmikan, Jek Hermanto: Memasarkan Produknya Tanpa Ada Membayar Sewa

Kelurahan Bagan Barat Laksanakan Goro Pembersihan Lokasi Pembangunan Koprasi Merah Putih

Antisipasi Inflasi Harga Sembako Bupati Bistamam Buka Gerakan Pangan Murah di Bagan Sinembah

Terkini +INDEKS

Sari Dumai Oleo Tingkatkan Akses Jalan bagi Masyarakat Lubuk Gaung

27 Juli 2026
Merasa Bahagia dan Bangga diIkut Sertakan Tarian Zapin Bagan, Pengawas Dlh Rohil Berikan Klarifikasi
24 Juli 2026
STAI Ar Ridho Bagansiapiapi Perkuat Kurikulum Berbasis OBE, Gandeng Guru Besar UIN Suska Riau
24 Juli 2026
Melebihi Standar, Kabupaten Rohil Berhasil Pecahkan Rekor MURI Melalui Tari Sapin Bagan
24 Juli 2026
Jawaban Bupati Rohil Atas Pandangan Umum Fraksi Fraksi DPRD Terhadap Ranperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025
21 Juli 2026
Pandangan Umum Fraksi -Fraksi DPRD Rohil Atas Ranperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025
21 Juli 2026
Rapat Paripurna DPRD Rohil Dengan Agenda Penyampaian Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 Oleh Bupati
21 Juli 2026
Aisya Fhatih Az Zahra, Dara Berbakat Rohil 2026, Kunjungi STAI Ar Ridho Bagansiapiapi
20 Juli 2026
STAI Ar-Ridho Bagansiapiapi Gelar Pembekalan Dosen dan Mahasiswa KKN-PPL Angkatan XIV
20 Juli 2026
Persatuan Wanita Patra Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai dan DPPA Kota Dumai Tanamkan Budaya Anti-Bullying di SD IT Brilliant
20 Juli 2026

Terpopuler +INDEKS

PT KIMI Berdarah Ketua PWRI Kabupaten Siak desak Seluruh Pihak yang Melanggar Hukum Dipidana Biar Ada Efek Jera

Dibaca : 310 Kali
Dituding Alihkan Pokir ke Luar Dapil, Anggota DPRD Dumai Muhammad Al Ichwan Hadi Beri Klarifikasi
Dibaca : 306 Kali
Tebar Kepedulian di Jumat Berkah, JMSI Kota Dumai Berbagi Rezeki untuk Masyarakat
Dibaca : 241 Kali
Erwin Sitompul Sebut Data Kemendagri Membuktikan Program MBG Tidak Menurunkan PAD Riau, Justru Menghemat APBD Rp45 Miliar
Dibaca : 355 Kali
Dua Perusahaan Galangan Kapal di Siak Riau Kebanggan Bupati Afni.z di Hentikan, Dugaan Memanfaatkan Ruang Laut Tanpa Izin
Dibaca : 390 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
PantauNews.co.id ©2020 | All Right Reserved