Kenali Sejarah Kepada Generasi Kampus, STAI Ar Ridho Kunjungi Candi Muara Takus
BANGKINANG, PANTAUNEWS - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ar Ridho Bagansiapiapi kunjungi Kompleks Candi Muara Takus di Kampar. Kunjungan ini untuk mengenali sejarah keilmuan, di mana candi ini diyakini sebagai kampus Buddha ke-2 di dunia setelah kampus Nalanda India (sekarang berada di Sri Langka).
Kunjungan dilakukan Minggu (11/1/2026), melibatkan generasi kampus dan civitas akademika, dipimpin Ketua STAI Ar Rihdo Dr. Budi Setiawan, M.Pd dan pihak yayasan, Yusnimar, SH.
Budi Setiawan menjelaskan, kunjungan ini terutama untuk mengenalkan sejarah kepada anak-anak generasi kampus, serta civitas akademika dan mengorelasikan keilmuan yang ada, terutama yang berhubungan dengan sejarah Budha hingga bertransisi menjadi kawasan Islam.
Sebagai kampus hijau berkemajuan, STAI Ar Ridho Bagansiapiapi memandang perlu mengingat sejarah kelimuan yang ditorehkan Candi Muara Takus karena diyakini memiliki sejarah keilmuan yang tinggi sesuai sejarah yang ada, menjadi kampus Buddha ke-2 di dunia.
Meski dahulunya kawasan itu menjadi pusat berkembagan keilmuan agama Buddha, transisinya sampai saat ini menjadi kawasan Islam yang kental menjadi atensi sendiri bagi STAI Ar Ridho.
Sementara itu, Juru Pelihara Kompleks Candi Muara Takus, Zulkifli menjelaskan kalau I-Tsing, biksu Buddha Tiongkok (abad ke-7), penulis perjalanan penting yang memperkuat peran Sriwijaya sebagai pusat studi Buddha internasional, diyakini menimba ilmu di Kompleks Candi Muara Takus dan merupakan sebuah kampus saat itu. Kampus ini merupakan kampus ke-2 setelah kampus Nalanda di India (sekarang berada di Sri Langka).
Secara otomatis, pengaruh Buddha saat itu sangat kuat di kawasan itu. Namun, saat ini, seiring masuknya Islam, warga di kawasan itu sudah memeluk Islam. Tadisi yang Buddha yang masih melekat sampai sekarang, Balimau Kasai, yang berarti menyucikan diri, dan dilakukan menjelang masuk Ramadan oleh umat Islam.
Ditambahkan Zulkifli, berdasarkan catatan penulis Belanda, Cornelis de Groot, Kompleks Candi Muara Takus ini ada tujuah candi. Saat ini sudah dibuka untuk umum empat candi, terdiri dari Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai dan Candi Palangka.
Sedangkan tiga candi lagi belum dieksvakasi dan belum dibuka untuk umum, melainkan sedang dalam pemanfaatan penelitian, di mana dari salah satu candi ditemukan arca Ganesha sebagai simbol keilmuan abad ke-7 dan dibawa ke Yogyakarta.
Di tempat itu, sejumlah generasi kampus, Fatih dan kawan-kawan measa senang bisa berkunjung ke kawasan tersebut dan dapat menimba ilmu. (HSY).


Berita Lainnya
Ikatan Keluarga Gonjong Limo Dumai Sampaikan Ucapan Selamat kepada H Paisal Sugiyarto
Coffe Morning Bersama Insan Pers, Pelindo Dumai Berharap Hubungan Semakin Baik
Penemuan Sosok Mayat di Guntung, Kendaraan yang Ditunggangi ber Nopol Bengkalis
TIMNAS U-16 Indonesia Jumpa Thailand di Semifinal
Ketua BKPRMI Kota Tangerang Rutin Bersilaturahmi Dengan Tokoh Masyarakat
Kilang Meledak dan Terbakar, Berikut Keterangan PT KPI RU Dumai
Wako dan Wawako Subulussalam Dikabarkan Belum Lapor Harta Kekayaannya ke LHKPN Tahun 2022, Ada Apa?
Jumat Berkah, Jadi Agenda Rutin Srikandi PP PAC Priuk
Polres Dumai Laksanakan Binluh Guna Mengantisipasi penyebaran faham radikalisme dan anti Pancasila serta tindak kejahatan terorisme
Penggerebekan Menargetkan Geng Narkoba, Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang
Lambok F Sihombing: PBB Kota Dumai Harus Berikan Kontribusi Yang Nyata
Syaiful Egab Hempuskan Nafas Terakhir, ASN Senior Ini Namanya Sempat Mencuat di Pilkada Dumai