• Home
  • Opini
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Otomotif
  • Sumatera
  • Hukrim
  • More
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Video
    • News
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
WAKO H Paisal Apresiasi Aksi Penanaman Pohon Kapolda Riau Di Mundam Kota Dumai
05 Juni 2026
SMKN 2 Dumai Tegaskan Tidak Menolak Program MBG, Penyaluran Dilanjutkan Usai Libur Sekolah
07 Januari 2026
20 Warga Kurang Mampu Rutin Terima Sembako Dari Tim GJB Pemuda Sintong
03 Januari 2026
DPRD Dumai Matangkan Regulasi Kepariwisataan, Dorong Kontribusi Pariwisata untuk PAD
29 Juli 2025
MK Tolak Gugatan, Paisal-Sugiyarto Siap Dilantik Sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Dumai
04 Februari 2025

  • Home
  • Opini

Pancasila dan Pembumian Sikap Toleransi Beragama

PantauNews

Rabu, 30 Desember 2020 03:56:05 WIB
Cetak

PANTAUNEWS.CO.ID - INDONESIA dengan segala kekayaan di dalamnya termasuk keberagaman sejak lahir, pilihan politik, ataupun pilihan hidup yang dijalani warga negaranya, memungkinkan segala hal bisa terjadi, termasuk potensi disintegrasi bangsa.

Salah satu sebabnya adalah adanya konflik dengan latar belakang suku agama ras dan antar golongan (SARA).

Kita menyaksikan aksi kekerasan berbalut isu intoleransi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan persoalan primordialisme/ego kedaerahan masih sering terjadi tiap tahun dalam kehidupan bernegara di Indonesia.

TERKAIT
  • Jubir Luhut: 500 TKA China Dibutuhkan untuk Mempercepat Pembangunan Smelter
  • Masyarakat bisa memperpanjang SIM hingga akhir Agustus 2020.
  • Peringatan Keras Presiden pada Kementerian yang Kinerjanya Tak Menujukkan Adanya Perasaan Krisis Dalam Penanganan Covid-19

Suka atau tidak, toleransi dalam kehidupan keberagaman, adalah tindakan penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Tindakan sebaliknya yaitu intoleransi akan menyebabkan adanya jurang pemisah di antara anak bangsa dalam mengayuh bersama bahtera kemerdekaan.

Intoleransi yang memasung HAM ditambah dengan ego kedaerahan merupakan bom waktu yang dapat meledakkan bahtera Indonesia menjadi berkeping-keping sehingga tidak dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Survey Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada bulan September 2019, menunjukkan bahwa 53 persen warga Muslim keberatan jika orang nonmuslim membangun tempat peribadatan di sekitar tempat tinggalnya.

Pertanyaan mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa menjadi intoleran yang kemudian menginjak-injak HAM dan juga mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa menjunjung tinggi ego kedaerahan, telah menjadi sebuah bahan riset yang menarik dan melibatkan banyak peneliti.

Hasilnya, ada beberapa tesis besar yang coba dijadikan jawaban atas kegelisahan kita secara bersama seperti yang sudah diangkat di atas. 

Hal pertama adalah karena faktor ekonomi. Pandangan ini beranggapan bahwa seseorang atau sekelompok orang bisa berubah perangai menjadi intoleran dalam kehidupannya karena masalah ekonomi.

Pandangan ini tidak menjadi sebuah tesis yang mutlak benar, sebab dalam beberapa kasus tertentu, intoleran dan atau sikap ego kedaerahan justru dilakukan oleh para tokoh terpandang yang dalam kelas ekonomi terbilang mapan. Karena itulah, tesis ini tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya alasan. 

Walau demikian, di sisi yang lain, ada juga kasus dimana tuntutan ekonomi memaksa seseorang melakukan apa saja sebagai langkah bertahan hidup, termasuk kekerasan.

Tesis ini tidak berdiri sendiri sebagai alasan tunggal. Letupan dari tesis ini biasanya diikuti dengan faktor lainnya sebagai hal kedua yakni politik.

Politik sebagai sebuah cara mencapai tujuan, terkadang memanfaatkan orang atau kelompok yang terhimpit beragam masalah, misalnya masalah ekonomi.

Heiner Bielefeldt, pelapor khusus PBB untuk kebebasan beragama atau berkeyakinan dan juga profesor hukum dan HAM di University of Erlangen-Nuremberg, Jerman, menuliskan buku Politik Kesetaraan (2019).

Menurutnya, politik memainkan perannya yang sangat besar sehingga mampu memengaruhi seluruh kehidupan bernegara.

Karena itu politik turut bertanggungjawab atas terjadinya kekerasan yang bertemakan identitas keagamaan yang kerap dilewati dengan stereotip dan prasangka lalu memuncak pada diskriminasi bahkan konflik. 

Hal ketiga adalah soal teologi. Harus disadari bahwa persoalan teologis tidak bisa dilepas-pisahkan dengan dua hal yang sudah disebutkan di atas. Bila pada hal pertama tesis kemiskinan bisa dibantah karena intoleransi kerap dilakukan oleh tokoh-tokoh yang terpandang dan mapan, maka persoalan teologislah yang menjadi penyebabnya.

Tidak bisa diabaikan bahwa prinsip ajaran dari sebuah agama bisa saja berbeda tafsir dan makna sehingga dapat juga tercipta ruang konflik pada tataran tafsir.

Banyak pimpinan agama yang mendapat tempat terhormat dalam komunitas agamanya karena memiliki banyak pengikut. Mereka menjadi tokoh agama yang terpandang dan bisa dikategorikan mapan. Namun mereka mengajarkan pemahaman agama yang mengarah kepada sikap intoleran.

Itu berarti seseorang yang intoleran dan mengagungkan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, tidak hanya karena soal ekonomi saja. 

Pengajaran yang berbeda ini akan menyebabkan agama sebagai sumber mata air berubah menjadi air mata. Agama yang adalah oase di tengah gersangnya gurun kehidupan diubah menjadi panas terik yang menyebabkan kegersangan.

Agama yang seharusnya berwajah keramahtamahan, tiba-tiba mewujud dalam kedengkian, kecemburuan, permusuhan.

Sebenarnya, Pancasila adalah jawaban dalam menyikapi berbagai persoalan intoleransi dan ego kedaerahan yang masih menjangkiti sebagian rakyat Indonesia.

Para pendiri bangsa telah sepakat bahwa Pancasila adalah jalan tengah atas berbagai perdebatan ide dan gagasan di masa perjuangan kemerdekaan.

Dalam pelaksanaan Pancasila, setiap warga negara harus menghormati hak sesama warga negara dalam hal berkeyakinan menganut agama dan kepercayaan. Seharusnya tidak ada paksaan dan tekanan karena perbedaan itu sejatinya telah ada semenjak terbentuknya dunia.

Jika hak seseorang diakui dan dihormati dalam memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing, maka seharusnya orang yang sama juga diperlakukan adil dan beradab dalam menjalani kemanusiaannya.

Setiap manusia atau warga negara meski diberlakukan secara adil dengan berbagai pilihan hidup, politik, dan berkeyakinannya.

Tatanan kehidupan seperti inilah yang disebut dengan beradab dan dengan sendirinya akan mewujudnyata dalam sikap saling menghargai dan menghormati. Ketika setiap orang dapat dengan bebas memeluk agamanya dan diperlakukan adil sebagai sesama manusia, maka akan terjalin persatuan yang utuh di antara setiap warga negara Indonesia.

Sampai pada titik ini, kita akan melihat bahwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, akan mudah terwujud ketika tercipta persatuan yang tidak hanya mengedepankan ego kedaerahan.

Termasuk hilangnya sikap mementingkan pemikiran eksklusif dan intoleran dari satu kelompok agama saja.

Tentu, tulisan ini hanya akan menjadi pandangan utopis saja, jika tidak dilakukan oleh orang-orang yang tersadarkan dan tercerahkan.

Seharusnya Pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum bagi kita untuk menanggalkan kostum intoleransi agama dan ego kedaerahan.

Di penghujung tahun 2020 ini, kita harus jahit kembali ikatan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Saatnya kita mengenakan pakaian yang khas Indonesia, bahwa perbedaan adalah keniscayaan dan takdir Tuhan.

Keberagaman kita telah disatukan oleh Pancasila. Intoleransi dan ego kedaerahan tidak memiliki tempat di bumi Pancasila ini.

Ditulis oleh: Sahat Martin Philip Sinurat
Penulis adalah Sekretaris Umum DPP GAMKI dan Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan Kemenpora


Sumber : Rmol.id /  Editor : Redaksi

[Ikuti PantauNews.co.id Melalui Sosial Media]


PantauNews.co.id

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Konsep Perspektif Ekonomi Politik Terhadap Dampak Kenaikan Harga Pertamax

Saan Mustopa: Penetapan Jadwal Pemilu 2024 Berpotensi Molor

Pileg 2024 Mendatang, Ajang Kontestasi Politik Paling Berat Rebut Hati Rakyat

AD/ART || ORGANISASI

G20: Mau Dibawa Kemana Perekonomian Dunia?

Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter

Minyak Menjerit Di Lumbung Sawit, Perlukah Teliti dan Revisi?

Aktif Wujudkan SDG's, KPI RU Dumai dan Sungai Pakning Raih Predikat Gold di Ajang ISDA 2022

Bayar Denda Rp800 Juta ke Kejari Pekanbaru, Agung Irawan: Sudah Dibayarkan Pihak Keluarga Ketiga Terpidana Korupsi

AD/ART || ORGANISASI

IKLIM ORGANISASI || KINERJA

Wisata Di Ranah Minang

Terkini +INDEKS

Sari Dumai Oleo Tingkatkan Akses Jalan bagi Masyarakat Lubuk Gaung

27 Juli 2026
Merasa Bahagia dan Bangga diIkut Sertakan Tarian Zapin Bagan, Pengawas Dlh Rohil Berikan Klarifikasi
24 Juli 2026
STAI Ar Ridho Bagansiapiapi Perkuat Kurikulum Berbasis OBE, Gandeng Guru Besar UIN Suska Riau
24 Juli 2026
Melebihi Standar, Kabupaten Rohil Berhasil Pecahkan Rekor MURI Melalui Tari Sapin Bagan
24 Juli 2026
Jawaban Bupati Rohil Atas Pandangan Umum Fraksi Fraksi DPRD Terhadap Ranperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025
21 Juli 2026
Pandangan Umum Fraksi -Fraksi DPRD Rohil Atas Ranperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025
21 Juli 2026
Rapat Paripurna DPRD Rohil Dengan Agenda Penyampaian Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 Oleh Bupati
21 Juli 2026
Aisya Fhatih Az Zahra, Dara Berbakat Rohil 2026, Kunjungi STAI Ar Ridho Bagansiapiapi
20 Juli 2026
STAI Ar-Ridho Bagansiapiapi Gelar Pembekalan Dosen dan Mahasiswa KKN-PPL Angkatan XIV
20 Juli 2026
Persatuan Wanita Patra Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai dan DPPA Kota Dumai Tanamkan Budaya Anti-Bullying di SD IT Brilliant
20 Juli 2026

Terpopuler +INDEKS

PT KIMI Berdarah Ketua PWRI Kabupaten Siak desak Seluruh Pihak yang Melanggar Hukum Dipidana Biar Ada Efek Jera

Dibaca : 310 Kali
Dituding Alihkan Pokir ke Luar Dapil, Anggota DPRD Dumai Muhammad Al Ichwan Hadi Beri Klarifikasi
Dibaca : 306 Kali
Tebar Kepedulian di Jumat Berkah, JMSI Kota Dumai Berbagi Rezeki untuk Masyarakat
Dibaca : 241 Kali
Erwin Sitompul Sebut Data Kemendagri Membuktikan Program MBG Tidak Menurunkan PAD Riau, Justru Menghemat APBD Rp45 Miliar
Dibaca : 355 Kali
Dua Perusahaan Galangan Kapal di Siak Riau Kebanggan Bupati Afni.z di Hentikan, Dugaan Memanfaatkan Ruang Laut Tanpa Izin
Dibaca : 390 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
PantauNews.co.id ©2020 | All Right Reserved