• Home
  • Opini
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Olahraga
  • Nasional
  • Politik
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Otomotif
  • Sumatera
  • Hukrim
  • More
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Video
    • News
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
SMKN 2 Dumai Tegaskan Tidak Menolak Program MBG, Penyaluran Dilanjutkan Usai Libur Sekolah
07 Januari 2026
20 Warga Kurang Mampu Rutin Terima Sembako Dari Tim GJB Pemuda Sintong
03 Januari 2026
DPRD Dumai Matangkan Regulasi Kepariwisataan, Dorong Kontribusi Pariwisata untuk PAD
29 Juli 2025
MK Tolak Gugatan, Paisal-Sugiyarto Siap Dilantik Sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Dumai
04 Februari 2025
Polres Dumai Tutup Tahun 2024 dengan Deretan Prestasi dan Komitmen untuk Keamanan Kota
31 Desember 2024

  • Home
  • Opini

Pancasila dan Pembumian Sikap Toleransi Beragama

PantauNews

Rabu, 30 Desember 2020 03:56:05 WIB
Cetak

PANTAUNEWS.CO.ID - INDONESIA dengan segala kekayaan di dalamnya termasuk keberagaman sejak lahir, pilihan politik, ataupun pilihan hidup yang dijalani warga negaranya, memungkinkan segala hal bisa terjadi, termasuk potensi disintegrasi bangsa.

Salah satu sebabnya adalah adanya konflik dengan latar belakang suku agama ras dan antar golongan (SARA).

Kita menyaksikan aksi kekerasan berbalut isu intoleransi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan persoalan primordialisme/ego kedaerahan masih sering terjadi tiap tahun dalam kehidupan bernegara di Indonesia.

TERKAIT
  • Jubir Luhut: 500 TKA China Dibutuhkan untuk Mempercepat Pembangunan Smelter
  • Masyarakat bisa memperpanjang SIM hingga akhir Agustus 2020.
  • Peringatan Keras Presiden pada Kementerian yang Kinerjanya Tak Menujukkan Adanya Perasaan Krisis Dalam Penanganan Covid-19

Suka atau tidak, toleransi dalam kehidupan keberagaman, adalah tindakan penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Tindakan sebaliknya yaitu intoleransi akan menyebabkan adanya jurang pemisah di antara anak bangsa dalam mengayuh bersama bahtera kemerdekaan.

Intoleransi yang memasung HAM ditambah dengan ego kedaerahan merupakan bom waktu yang dapat meledakkan bahtera Indonesia menjadi berkeping-keping sehingga tidak dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Survey Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada bulan September 2019, menunjukkan bahwa 53 persen warga Muslim keberatan jika orang nonmuslim membangun tempat peribadatan di sekitar tempat tinggalnya.

Pertanyaan mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa menjadi intoleran yang kemudian menginjak-injak HAM dan juga mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa menjunjung tinggi ego kedaerahan, telah menjadi sebuah bahan riset yang menarik dan melibatkan banyak peneliti.

Hasilnya, ada beberapa tesis besar yang coba dijadikan jawaban atas kegelisahan kita secara bersama seperti yang sudah diangkat di atas. 

Hal pertama adalah karena faktor ekonomi. Pandangan ini beranggapan bahwa seseorang atau sekelompok orang bisa berubah perangai menjadi intoleran dalam kehidupannya karena masalah ekonomi.

Pandangan ini tidak menjadi sebuah tesis yang mutlak benar, sebab dalam beberapa kasus tertentu, intoleran dan atau sikap ego kedaerahan justru dilakukan oleh para tokoh terpandang yang dalam kelas ekonomi terbilang mapan. Karena itulah, tesis ini tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya alasan. 

Walau demikian, di sisi yang lain, ada juga kasus dimana tuntutan ekonomi memaksa seseorang melakukan apa saja sebagai langkah bertahan hidup, termasuk kekerasan.

Tesis ini tidak berdiri sendiri sebagai alasan tunggal. Letupan dari tesis ini biasanya diikuti dengan faktor lainnya sebagai hal kedua yakni politik.

Politik sebagai sebuah cara mencapai tujuan, terkadang memanfaatkan orang atau kelompok yang terhimpit beragam masalah, misalnya masalah ekonomi.

Heiner Bielefeldt, pelapor khusus PBB untuk kebebasan beragama atau berkeyakinan dan juga profesor hukum dan HAM di University of Erlangen-Nuremberg, Jerman, menuliskan buku Politik Kesetaraan (2019).

Menurutnya, politik memainkan perannya yang sangat besar sehingga mampu memengaruhi seluruh kehidupan bernegara.

Karena itu politik turut bertanggungjawab atas terjadinya kekerasan yang bertemakan identitas keagamaan yang kerap dilewati dengan stereotip dan prasangka lalu memuncak pada diskriminasi bahkan konflik. 

Hal ketiga adalah soal teologi. Harus disadari bahwa persoalan teologis tidak bisa dilepas-pisahkan dengan dua hal yang sudah disebutkan di atas. Bila pada hal pertama tesis kemiskinan bisa dibantah karena intoleransi kerap dilakukan oleh tokoh-tokoh yang terpandang dan mapan, maka persoalan teologislah yang menjadi penyebabnya.

Tidak bisa diabaikan bahwa prinsip ajaran dari sebuah agama bisa saja berbeda tafsir dan makna sehingga dapat juga tercipta ruang konflik pada tataran tafsir.

Banyak pimpinan agama yang mendapat tempat terhormat dalam komunitas agamanya karena memiliki banyak pengikut. Mereka menjadi tokoh agama yang terpandang dan bisa dikategorikan mapan. Namun mereka mengajarkan pemahaman agama yang mengarah kepada sikap intoleran.

Itu berarti seseorang yang intoleran dan mengagungkan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, tidak hanya karena soal ekonomi saja. 

Pengajaran yang berbeda ini akan menyebabkan agama sebagai sumber mata air berubah menjadi air mata. Agama yang adalah oase di tengah gersangnya gurun kehidupan diubah menjadi panas terik yang menyebabkan kegersangan.

Agama yang seharusnya berwajah keramahtamahan, tiba-tiba mewujud dalam kedengkian, kecemburuan, permusuhan.

Sebenarnya, Pancasila adalah jawaban dalam menyikapi berbagai persoalan intoleransi dan ego kedaerahan yang masih menjangkiti sebagian rakyat Indonesia.

Para pendiri bangsa telah sepakat bahwa Pancasila adalah jalan tengah atas berbagai perdebatan ide dan gagasan di masa perjuangan kemerdekaan.

Dalam pelaksanaan Pancasila, setiap warga negara harus menghormati hak sesama warga negara dalam hal berkeyakinan menganut agama dan kepercayaan. Seharusnya tidak ada paksaan dan tekanan karena perbedaan itu sejatinya telah ada semenjak terbentuknya dunia.

Jika hak seseorang diakui dan dihormati dalam memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing, maka seharusnya orang yang sama juga diperlakukan adil dan beradab dalam menjalani kemanusiaannya.

Setiap manusia atau warga negara meski diberlakukan secara adil dengan berbagai pilihan hidup, politik, dan berkeyakinannya.

Tatanan kehidupan seperti inilah yang disebut dengan beradab dan dengan sendirinya akan mewujudnyata dalam sikap saling menghargai dan menghormati. Ketika setiap orang dapat dengan bebas memeluk agamanya dan diperlakukan adil sebagai sesama manusia, maka akan terjalin persatuan yang utuh di antara setiap warga negara Indonesia.

Sampai pada titik ini, kita akan melihat bahwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, akan mudah terwujud ketika tercipta persatuan yang tidak hanya mengedepankan ego kedaerahan.

Termasuk hilangnya sikap mementingkan pemikiran eksklusif dan intoleran dari satu kelompok agama saja.

Tentu, tulisan ini hanya akan menjadi pandangan utopis saja, jika tidak dilakukan oleh orang-orang yang tersadarkan dan tercerahkan.

Seharusnya Pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum bagi kita untuk menanggalkan kostum intoleransi agama dan ego kedaerahan.

Di penghujung tahun 2020 ini, kita harus jahit kembali ikatan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Saatnya kita mengenakan pakaian yang khas Indonesia, bahwa perbedaan adalah keniscayaan dan takdir Tuhan.

Keberagaman kita telah disatukan oleh Pancasila. Intoleransi dan ego kedaerahan tidak memiliki tempat di bumi Pancasila ini.

Ditulis oleh: Sahat Martin Philip Sinurat
Penulis adalah Sekretaris Umum DPP GAMKI dan Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan Kemenpora


Sumber : Rmol.id /  Editor : Redaksi

[Ikuti PantauNews.co.id Melalui Sosial Media]


PantauNews.co.id

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Akankah SDM Menjadi Salah Satu Elemen Kemajuan Ekonomi Suatu Negara?

EVALUASI ORGANISASI

"Pasar dalam Kehidupan Masyarakat"

Hari Buruh, Ancaman Pengangguran, dan Masa Depan Buruh Indonesia

DUA SISI PERCAYA DAN KEPERCAYAAN

MAKNA || Persahabatan

DUA SISI PERCAYA DAN KEPERCAYAAN

Aktif Wujudkan SDG's, KPI RU Dumai dan Sungai Pakning Raih Predikat Gold di Ajang ISDA 2022

IKLIM ORGANISASI || KINERJA

Mengapa PJS Melarang Wartawan Rangkap LSM?

Pertaruhan Independensi Wartawan Dibalik Mafia Tambang di Babel

Kenapa Lebih Senang Melaksanakan Rapat Malam hingga Dini Hari?

Terkini +INDEKS

21 Mahasiswa STAI Ar Ridho Bagansiapiapi Ikuti Sidang Seminar Proposal

12 Maret 2026
Dirut Agrinas Absen Rapat DPR, Polemik Program Koperasi Desa Merah Putih Menguat
12 Maret 2026
Sah..Usai Terima SK DPC Pekanbaru S Hondro Siap Berbenah
12 Maret 2026
Warga Israel Berebut Keluar Negeri, Bandara Ben Gurion Kacau Usai Rudal Iran Hujani Tel Aviv
11 Maret 2026
Guru Karawang Gugat Negara ke MK, Anggaran Pendidikan Diduga Tergerus Program Makan Bergizi Gratis
11 Maret 2026
252 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Dihentikan Sementara, BGN Temukan Pelanggaran
10 Maret 2026
Safari Ramadan di Dumai, PT Krakatau Bandar Samudra Santuni Yatim dan Pererat Kolaborasi Stakeholder Pelabuhan
06 Maret 2026
Bea Cukai Dumai Tegaskan Kooperatif dan Transparan, Serahkan Dokumen Lengkap kepada Kejagung dalam Penyidikan Kasus CPO
05 Maret 2026
Kabareskrim Apresiasi Kinerja Polda Riau dalam Penanganan Karhutla, Minta Tindak Tegas Pelaku Pembakaran
05 Maret 2026
Kecelakaan Kerja di PT Ivo Mas Tunggal Dumai, FAP Tekal Soroti Pengawasan Keselamatan
05 Maret 2026

Terpopuler +INDEKS

Kecelakaan Kerja di PT Ivo Mas Tunggal Dumai, FAP Tekal Soroti Pengawasan Keselamatan

Dibaca : 255 Kali
Kasus Laka Maut Bukit Datuk Dumai, Anak Korban Resmi Gandeng Pengacara, Proses Hukum Dikawal Ketat
Dibaca : 302 Kali
Aktivis dan Pengamat pendidikan Riau, Minta PLT Gubernur Riau Segera Copot Jabatan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau
Dibaca : 1504 Kali
kepala Dinas Pendidikan Kota Dumai: Insan Pers Terus Menjadi Mitra Dalam Menyebarluaskan Informasi
Dibaca : 223 Kali
Dua Bersaudara Harumkan Dumai di Kejuaraan Karate Piala Dandim 0320, Deretan Prestasi Nasional Ikut Mengiringi
Dibaca : 313 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
PantauNews.co.id ©2020 | All Right Reserved