"Politik Gentong Babi" Mencuat di Pilkada Riau, Pengamat: Kepala Daerah Jangan Cawe-Cawe!
PANTAUNEWS.CO.ID, PEKANBARU - Jelang akan dilaksanakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024, suhu politik di bumi Lancang Kuning, Riau, terasa semakin panas. Beberapa nama yang disebut-sebut bakal ikut bertarung di kancah pilgubri pun telah bermanuver untuk mendapatkan dukungan. Baik dukungan partai politik, maupun dukungan rakyat.
Beberapa kandidat yang sudah menampakkan ambisinya untuk maju di Pilgubri, bergerak cepat melakukan manuver politik agar jalan yang ditempuh kian lempang. Sekalipun cara yang dilakukan tidak etis dan elegan. Seperti memanfaatkan kekuasaan untuk membantu pengeluaran (cost politic).
Manuver politik yang dikenal dengan sebutan politik "Gentong Babi" ini pun dianggap tidak elok untuk pertumbuhan demokrasi.
Berita Pj Gubernur Riau, SF Hariyanto bagi-bagi sepeda motor kepada aparat desa menjadi sorotan. Pj Gubernur Riau yang masa jabatannya akan berakhir bulan Juli ini disebut-sebut membagikan dua unit sepeda motor kepada kepala desa di Riau.
"Kisah ini sungguh mengejutkan dan patut dipertanyakan asal-usul pendanaannya. Kepala daerah jangan cawe-cawe lah," ungkap Ketua Pimda Riau dari Partai Kebangkitan Nusantara PKN, Fajar Simanjuntak, pada Senin (24/6/2024).
Dikatakan Dewan Penasehat FKPPI Pusat, tindakan yang dilakukan oleh bakal calon Gubernur tersebut jelas melanggar etika dan moralitas seorang pemimpin yang mendapat amanah dari pemerintah pusat melalui mekanisme penunjukan Pj Gubernur.
"Pertanyaan yang muncul bukan sekadar soal pembagian sepeda motor, tetapi lebih pada penggunaan dana negara untuk kepentingan politik pribadi," tegas Fajar.
Politik Gentong Babi, atau yang dikenal sebagai pork barrel politics, merujuk pada praktik politik yang seharusnya tidak diterima dalam tata kelola pemerintahan. Meski sering tak disadari, politik semacam ini mencoreng prinsip integritas dan transparansi dalam pemerintahan.
"Dengan kasus yang mencuat ini, masyarakat diharapkan lebih kritis dalam memilih pemimpin yang berintegritas dan bertanggung jawab demi kemajuan daerah," pungkasnya.
Disisi lain pengamat sosial politik Riau, H Fauzi Kadir menilai bahwa SF Hariyanto tidak memiliki visi development sustainable.
"Ia hanya tukang dan pinter nukangi biaya yang besar-besar. Tipe pribadi hedonisme ini berbahaya jika jadi pemimpin," tegas Fauzi Kadir yang juga Ketua Partai Ummat Provinsi Riau.(*)


Berita Lainnya
Kegembiraan Masyarakat Pecah di Posko Sugiyarto, Sambut Kemenangan PAS
Edi Sepen Berpasangan Zainal Abidin Siap Berlayar Di Pilkada Dumai 2020
Kade-Iyeth Bustami akan Temui Tokoh dan Mantan Bupati Bengkalis di Pekanbaru
Ini alasan Ketua Bapilu DPD PDI Perjuangan Riau Soal Lamanya Penyerahan SK Dukungan Pada Calon Kepala Daerah
PAS Sapu Bersih, Hanura Berpotensi 'Jungkalkan' Petahana di Pilkada Dumai
Tim Relawan Idaman H. Paisal Gelar Rapat, Teguhkan Dukungan untuk Menang Periode Ke Dua
Terkait Pilkada Dumai 2020, Samsul Bahri Himbau: Hati Hati Oknum yang Mengatasnamakan PPP
Hipemarohi Pertanyakan Ketegasan Bawaslu
Marasoki: Pertemuan Ini Langkah Awal Galang Kekuatan di Pilkada Dumai 2020
Menjelang Pilkada 2024, Ketua Forum RT-RW Meranti Ajak Warga Jaga Kondusifitas
Pengurus Ranting Partai Gerindra Kelurahan Cimone Jaya Merasa Kurang Diperhatikan
Pencopotan 2 Pimpinan PPP Dumai, Jabarullah: Semua Ini Keputusan DPW Riau dan Sudah Ditembuskan ke DPP