Pejabat Kontraterorisme AS Mundur, Singgung Perang Iran Dipicu Tekanan Israel
PANTAUNEWS, INTERNASIONAL - Keputusan mengejutkan datang dari lingkaran keamanan nasional Amerika Serikat. Kepala Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC), Joe Kent, resmi mengundurkan diri pada Selasa (17/3/2026), di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengunduran diri tersebut bukan sekadar pergantian jabatan biasa. Dalam pernyataan terbukanya, Kent menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan perang yang sedang berlangsung. Ia mengaku tidak dapat, “dengan hati nurani yang baik,” mendukung operasi militer tersebut.
Lebih jauh, Kent secara tegas menyebut bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat. Pernyataan ini menjadi sorotan tajam, mengingat narasi resmi pemerintah selama ini justru menempatkan Iran sebagai ancaman strategis.
Tak hanya itu, Kent juga menyinggung faktor eksternal yang dinilai berpengaruh besar terhadap keputusan perang. Ia menyebut adanya tekanan dari Israel serta kuatnya lobi politik di dalam negeri Amerika sebagai pendorong utama konflik.
Pernyataan tersebut sontak memicu kontroversi. Pemerintah Amerika Serikat dengan cepat membantah klaim Kent, menegaskan bahwa keputusan militer didasarkan pada intelijen yang menunjukkan adanya ancaman nyata dari Iran.
Sejumlah analis menilai pengunduran diri ini mencerminkan adanya perpecahan di internal pemerintahan terkait arah kebijakan luar negeri, khususnya dalam menangani konflik Timur Tengah. Langkah Kent dinilai sebagai bentuk protes terbuka yang jarang terjadi dari pejabat tinggi keamanan nasional.
Di sisi lain, pernyataan Kent juga membuka ruang perdebatan publik yang lebih luas: apakah perang ini benar-benar didasarkan pada kepentingan keamanan nasional, atau justru dipengaruhi dinamika politik dan tekanan sekutu.
Hingga kini, belum ada indikasi perubahan kebijakan dari pemerintah AS. Namun, mundurnya sosok kunci seperti Joe Kent berpotensi menjadi sinyal adanya ketegangan serius di balik layar pengambilan keputusan.
Situasi ini diprediksi akan terus berkembang, seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap konflik yang berisiko meluas dan berdampak global.


Berita Lainnya
TNI Bantu Penyelamatan Hingga Pemulangan 4 WNI Korban Penculikan Abu Sayyaf
Cegah Kasus Impor Corona, Thailand Setop Penerbangan Internasional Hingga Senin
Pandemi Covid-19 Ungkap Ketimpangan Sosial dan Kesehatan di AS
Presiden Kosovo Didakwa Lakukan Kejahatan Perang, Penyiksaan-Pembunuhan
Bakamla RI dan Turkish Coast Guard Sepakati Kerja Sama di Bidang Keamanan Maritim
Pemerintah Evakuasi Warga Indonesia dari Lebanon Akibat Situasi Konflik
Pimpin Delegasi Parlemen DPD RI, Haji Uma Ajak Jordania Jajaki Peluang Investasi Di Aceh
Bakal Diblokir di AS, TikTok Siap Tempuh Jalur Hukum
Pemerintah Evakuasi Warga Indonesia dari Lebanon Akibat Situasi Konflik
Ditengah Badai Corona,Trump Tetap Gelar Kampanye
TNI Bantu Penyelamatan Hingga Pemulangan 4 WNI Korban Penculikan Abu Sayyaf
Menkumham Promosikan Kebebasan Beragama Indonesia di Hadapan Anggota Parlemen Inggris